MARKETPLACE GURU, SOLUSI ATAU AJANG BERDAGANG?

 MARKETPLACE GURU, SOLUSI ATAU AJANG BERDAGANG?

(Tanggapan terhadap tulisan Inez dalam artikel Tribun Jateng)

A. PENDAHULUAN

Lapangan pekerjaan di Indonesia sampai saat ini masih belum mampu menampung banyaknya Sarjana yang telah usai dari bangku perkuliahannya. Sarjana Pendidikan setiap tahunnya meningkat, hal ini menyebabkan semakin banyak guru honorer yang masih belum tertampung oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Karena, hingga saat ini guru honorer adalah salah satu pekerjaan yang tidak memiliki status kejelasan. Honorer bukanlah PNS dan bukan juga PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Hingga saat ini, pemerintah masih belum jelas menentukan bagaimana kedudukan seorang guru honorer. Sebab, dalam Undang-undang (UU) mengenai sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menerapkan persyaratan mengenai PPG (Pendidikan Profesi Guru). Dengan adanya hal tersebut, status guru honorer mengalami semacam kedilemaan dan menggantung.

Permasalahan pelik ini pemerintah belum bisa menanggulanginya. Fresh Graduate yang ingin berprofesi menjadi guru memiliki syarat mempunyai pengalaman mengajar. Maka dari itu, menjadi guru honorer merupakan langkah awal yang harus di tempuh seorang Fresh Graduate untuk meraih profesi menjadi guru. Namun, ini lah yang menjadi permasalahan. Tidak adanya ketetapan mengenai status guru honorer. Terlebih jika berbicara mengenai kesejahteraan guru honorer yang hanya mendapatkan sebuah imbalan yang terhitung rendah dan tidak bisa dibandingkan dengan jasanya yang tulus dalam memberikan sebuah pendidikan kepada para siswa di sekolah. Tidak peduli seberapa banyak mata pelajaran yang diampu oleh guru honorer dan tuntutan pekerjaan lainnya selain mengajar yang harus guru honorer lakukan. Hal ini tidak membuat gaji yang diterima guru honorer sepadan dengan apa yang dikerjakan.

Menjadi guru honorer memiliki status yang lemah, kesejahteraan yang tidak diperhatikan, dan perlindungan hukumnya pun tidak jelas. Baru-baru ini menteri

pendidikan Nadiem Makarim membuat suatu kebijakan baru untuk mengurangi membludaknya guru honorer di Indonesia. Ia membuat sebuah strategi dengan teknologi canggih yaitu “Marketplace Guru”. Hal ini diperuntukan supaya sekolah lebih hati-hati dan tidak sembarangan dalam merekrut guru honorer. Nadiem juga menjelaskan, marketplace ini solusi untuk menanggulangi permasalahan mengenai guru honorer. Tentunya persoalan ini menimbulkan berbagai reaksi di berbagai kalangan, baik pro maupun kontra.

B. PEMBAHASAN

Marketplace Guru dibuat untuk menyimpan database guru dengan adanya kualifikasi tertentu yang dapat diakses oleh seluruh sekolah yang ada di Indonesia yang sedang membutuhkan SDM. Dalam artikel, dijelaskan oleh Menteri Pendidikan Indonesia Nadiem Makarim bahwa pola perekrutan yang semula berpusat akan berubah menjadi sebuah pengangkatan setiap saat, layaknya kita berbelanja di suatu marketplace. Guru yang dapat terdaftar dalam Marketplace Guru memiliki beberapa persyaratan, salah satunya adalah guru honorer yang telah lulus seleksi PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja). Dalam hal ini, seleksi PPPK akan lebih diperketat dan ditingkatkan frekuensinya menjadi lebih dari satu kali dalam setahun. Persyaratan lainnya adalah guru harus lulus PPG (Pendidikan Profesi Guru. Seorang guru yang sudah lulus PPG dan PPPK maka berhak mengajar di sekolah seluruh Indonesia. Jika calon guru sudah direkrut, maka dianggap sebagai ASN atau PPPK. Perekrutan guru tetap menggunakan marketplace dalam upaya menjadikan sekolah berkualitas dengan merekrut guru yang memiliki kualitas yang tinggi.

Jika kita melihat pada suatu hal yang nyata dan ada di depan mata, bagaimana kehidupan seorang guru honorer yang sesungguhnya, tentulah marketplace ini bukanlah solusi. Dari penamaannya pun sudah sangat merendahkan harga diri seorang guru. Karena marketplace terkesan seperti menjual produk. Guru bukanlah sebuah produk yang dapat dijual di marketplace. Tak dapat dipungkiri, teknologi semakin canggih dan mempermudah solusi bagi kehidupan manusia, namun penamaan “Marketplace Guru” sangatlah tidak tepat.

Jika marketplace guru dibuat untuk memfilter perekrutan guru honorer supaya lebih berkualitas, bagaimana dengan nasib Fresh Graduate yang ingin mendaftar PPG. Sedangkan, syarat pendaftaran PPPK yang sekurang-kurangnya haris memiliki pengalaman mengajar selama tiga tahun dan akan diperketat dan ditingkatkan menjadi lebih dari satu kali dalam setahun tidaklah efektif. Menurut salah satu guru di sekolah dasar yang ada di pedesaan mengatakan bahwa “Saya tidak lulus PPPK tiga kali, saya gagal dalam tahap wawancara. Menurut saya, seharusnya proses seleksi PPPK tidak ditentukan oleh wawancara, seharusnya pemerintah lebih melihat kepada skill saat di lapangan seperti apa, percuma saja nilai bagus wawancara bagus tapi skill yang mereka miliki sebenarnya tidak terlihat sebagus nilai dan wawancaranya, misalnya mengenai

pemahaman IT / teknologi lainnya, menjadi seorang guru harus lebih mumpuni dibandingkan siswanya. Lalu bagaimana jika seorang guru tidak mumpuni dalam segi teknologi sedangkan saat ini teknologi sangat diperlukan? Seharusnya itu yang menjadi perhatian bagi pemerintah”. Begitu ujar Ajeng Febya, seorang guru di pedesaan.

Ketika seorang guru honorer yang memiliki pendapatan yang kecil dan harus pindah kota karena sekolah yang membutuhkan SDM berada di lain kota, bagaimana nasib setelahnya? Apakah gaji honorer akan menutupi kebutuhan sehari-harinya di kota tersebut? Hal ini masih perlu sangat dipikirkan. Dengan adanya marketplace maka usia seorang guru akan lebih difilter, artinya ada kemungkinan bahwa sekolah akan cenderung menerima guru yang masih memiliki usia muda.

Meskipun dikatakan bahwa sarjana S. Pd., tidak harus menjadi seorang guru, namun hal ini tidaklah mudah karena jurusan pendidikan sudah dididik mengenai basic dalam mengajar, untuk menjadi seorang menteri pendidikan ataupun staff pendidikan pun menjalani proses yang sangat panjang dan peluang sikut menyikutnya akan keras layaknya mencari sebuah jarum di atas tumpukkan jerami. Mengapa pemerintah tidak fokus pada pelatihan soft skill yang harus dimiliki oleh seorang guru, fokus terhadap pelaksanaan workshop ataupun capacity building yang seharusnya dilakukan guna meningkatkan pengetahuan dari guru tersebut. Karena, menjadi seorang guru harus lebih unggul dibandingkan dengan muridnya, harus lebih melek teknologi dan mengikuti perkembangan zaman.

C. PENUTUPAN

Kesimpulan

Pembuatan strategi upaya menanggulangi meningkatnya guru honorer setiap tahunnya dengan pembuatan Marketplace Guru bukanlah sebuah solusi. Melainkan masalah baru. Karena, Marketplace Guru akan membuat banyak orang semakin menganggur, terutama Fresh Graduate yang belum memiliki pengalaman. Marketplace Guru juga akan mempersulit honorer ketika ia mendapatkan pekerjaan di luar kota, karena belum tentu gaji honorer dapat menutupi kebutuhan sehari-harinya.

Saran

1. Sebaiknya penamaan mengenai marketplace diubah, karena hal ini menjadikan harga diri guru rendah, hal ini menyebabkan harga diri guru disamakan dengan produk yang dapat dijual.

2. Pemerintah lebih fokus pada pelatihan terhadap guru, guna meningkatkan skill dan pengetahuan yang dimiliki oleh guru.

3. Pemerintah melakukan survei, tidak hanya sekolah-sekolah yang berada di kota-kota besar yang diperhatikan, namun sekolah yang berada dalam pedalaman desa pun harus

diperhatikan baik mengenai fasilitas sekolah maupun ketenagakerjaan yang ada di dalam sekolah tersebut.

4. Pemerintah mendata sekolah mana saja yang sudah layak dan belum layak sesuai dengan standarisasi yang dibuat oleh pemerintah, lalu pemerintah dapat mengelompokkan pendataan sekolah mana saja yang harus lebih diperhatikan dan di upgrade ke dalam tahap yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan pembuatan marketplace guru, lebih baik pemerintah meningkatkan kualitas guru.

5. Pemerintah dapat mengambil kebijakan baru mengenai pensiun dini, karena di usia 60 tahun jika dilihat dari sisi psikologi dan fisik, sudah tidak mampu untuk mengajar dan memberikan pengajaran yang efektif. Guru yang sudah berusia akan lebih lama dalam memahami teknologi yang ada sekarang, hal ini dapat mempengaruhi keefektifan dalam mengajar.

Comments